Gurau Wartawan Malaysia
Catatan dari Kualalumpur
Oleh Helfizon Assyafei
Oleh Helfizon Assyafei
Pekan ini PWI
Riau melakukan muhibbah jurnalistik ke Kualalumpur Malaysia. Saya termasuk di antara 41 wartawan
yang berangkat ke negeri jiran tersebut. Kami dibekali tanjak Melayu dari Siak
dan menggunakannya di berbagai acara yang ditaja. Tujuannya adalah melakukan
sosialisasi atau promosi budaya daerah setiap rombongan datang bersilaturahmi
ke berbagai media yang ada di Malaysia. Tanjak jadi ikon/symbol budaya tertentu
yang kami bawa.
Tanjak adalah selembar kain yang dilipat sedemikian
rupa untuk menghiasi kepala juga
dikenal dengan sebutan Tengkolok. Dulunya orang Melayu biasa mengenakan tanjak
begitu meninggalkan rumah. Fungsinya sebagai penutup kepala dari gangguan udara
maupun ranting jika pergi ke kebun. Awalnya berbentuk ikat biasa, namun oleh
orang Melayu dahulu yang aktif dibidang gerak tangan muncul kreasi bentuk
dengan nama tanjak. Kita pun biasanya melihat ikat kepala tersebut hanya
sewaktu ada helat perkawinan atau upacara resmi adat budaya Melayu.
Mungkin karena berkunjung ke negeri jiran yang budayanya juga
Melayu mereka tidak asing soal tanjak. Meski demikian pada berbagai kesempatan
sambutan, Ketua PWI Riau, Zulmansyah Sekedang, tetap menyampaikan soal tanjak
ini. “Kami memakai tanjak bukan untuk berlagak, tetapi untuk mengenalkan ikon
Melayu Riau dimanapun,” ujarnya bersemangat.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa tanjak yang dipakai untuk mempromosikan Bumi
Lancang Kuning yang berslogan Riau The
Homeland of Melayu. Yakni dalam rangka untuk mencapai visi-misi Riau yang
berencana menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada tahun
2020. ''Seluruh rombongan pengurus PWI Riau dan pengurus PWI daerah
datang ke RTM ini memakai tanjak. Dan tanjak yang dipakai bukan sembarang
tanjak, tapi merupakan tanjak khas Bumi Melayu yakni berasal dari Negeri
Istana, Kabupaten Siak Sri Indrapura,” ujarnya.
Namun yang menarik adalah bukan tanggapan
wartawan Malaysia soal tanjak tetapi soal pasang surut hubungan
Indonesia-Malaysia dalam hal politik. Apalagi sempat heboh saat bendera merah
putih dipasang terbalik dalam acara Sea Games beberapa waktu lalu di Malaysia.
Hal ini muncul saat rombongan PWI berkunjung ke Kantor Berita Nasional Malaysia
(Bernama). Ketika itu sesi dialog bersama Pengerusi Bernama, Datuk Seri Azman
Ujang dan Ketua Pengarang Bernama, Datuk Zakaria Abdul Wahab dan Ketua Pengurus
Besar Bernama, Datuk Zulkefli Salleh.
Pada kesempatan itu Datuk Zakaria sempat
bertanya apakah insiden bendera di Sea Games beberapa waktu lalu benar-benar
membuat situasi jadi panas. Ketua PWI Riau Zulmansyah mengatakan awalnya ya.
Namun dengan adanya respon cepat Pemerintah Malaysia meminta maaf maka situasi
itu dapat segera mereda. Menurut
Zulmansyah respon itu menjadi penanda bahwa kesalahan itu bukanlah disengaja
dan dapat dimaafkan. Namun selama ini, lanjut Zulmansyah, wartawan di Riau
tidak terlalu memblow up persoalan itu karena selalu selektif untuk membuat
kondisi lebih kondusif.
Datuk Zakaria kemudian mengucapkan terimakasih
Indonesia. Menanggapi pertanyaan pasang surutnya hubungan Malaysia-Indonesia
yang sempat ditanyakan oleh delegasi PWI Payakumbuh Sumbar yang juga berkunjung
pada waktu yang bersamaan dengan PWI Riau, Datuk Zakaria menjawab dengan
bergurau. Indonesia itu adalah kakak kami. Malaysia itu adik tengah. Dan
Singapura itu adik bungsu. “Jadi biaselah abang-adik begaduh,” ujarnya
tersenyum.
Menurutnya jangan dibuat serius seperti
berkelahi dengan orang lain. Ia juga menuturkan pengalaman saat menjadi
koresponden LKBN Antara untuk berita-berita Malaysia ia tetap menjaga hubungan
kedua negara abang-adik ini. “Sepanas apapun situasi saya tidak pernah
menuliskannya dengan semangat marah atau kebencian. Saya tetap menuliskan hal
positif dari kesalahpahaman yang terjadi kala itu,” ujarnya mengenang. Ia juga
berharap semangat serupa diwarisi oleh wartawan negeri serumpun ini ke depan.
Ia juga memacu semangat wartawan cetak agar
terus berkarya meski intervensi teknologi online sangat pesat. “Bahkan saya
ingin Bernama terus ada selamanya. Bahkan jika perlu sampai akhir zaman dan
kiamat datang. Ketika hari besar itu datang masih ada media cetak yang
menulisnya. Besok Diperkirakan Kiamat Datang,” ujar Zakaria disambut gelak tawa
peserta pertemuan.
Yang juga tak kalah kocaknya humor soal slogan
Malaysia, Indonesia dan Thailand. Kata Datuk Zakaria slogan Malaysia adalah
Malaysia boleh. Kalau Indonesia, kadang boleh (ada yang boleh ada yang tidak)
dan Thailand karena tidak pernah dijajah slogannya adalah semua boleh.
Sampai-sampai ratu kecantikan di sana ternyata lelaki..! Suasana kembali heboh
dengan gelak tawa peserta. Kunjungan diakhiri dengan saling bertukar
cenderamata.***
Datuk Seri Azman Ujang (tengah berjas) diapit oleh Ketua PWI Riau Zulmansyah Sekedang (dua dari kiri) dan Kabid Ekonomi Bisnis PWI Riau, Helfizon Assyafei (dua dari kanan).

Hadir
BalasHapusHadir pak
BalasHapusHadir pak
BalasHapusHadir pak
BalasHapushadir pak
BalasHapushadir pak
BalasHapusHadir pak
BalasHapusHadir pak
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusHadir pak
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusHadir pak
BalasHapusHadir pak (SUHAIMAH)
BalasHapusHadir pak
BalasHapushdir pak
BalasHapus