Dari Legenda Batu Cave hingga Moto GP
Muhibbah
Jurnalisitik PWI Riau ke Kualalumpur Malaysia
Kualalumpur Malaysia terus berbenah
menjadi destinasi wisata dunia. Mulai dari wisata sejarah yang masih
terpelihara, wisata modern hingga balapan motor grandprix kelas dunia. Pekan
ini Riau Pos bersama 40 jurnalis lainnya yang tergabung dalam Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) Riau berkesempatan melakukan kunjungan (muhibbah) ke
negeri jiran tersebut.
Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Kualalumpur
Malaysia
Di
sela padatnya agenda kunjungan kerja PWI Riau ke sejumlah tempat seperti kampus International Institute For Halal
Research & Training (INHART), Kumpulan Media Karangkraf di Provinsi Shah
Alam, Selangor, Kantor Berita Nasional Malaysia ( Bernama) dan Studio Radio
Televisyien Malaysia (RTM), rombongan masih menyempatkan diri rehat sejenak di
sejumlah objek wisata yang ada.
Dalam lawatan yang dipimpin langsung oleh
Ketua PWI Riau H Zulmansyah Sekedang. Sejumlah pengurus teras lainnya juga ikut
yakni Ketua Dewan Penasehat PWI Riau Helmi Burman, Ketua DKP H Dheni Kurnia,
Sekretaris DKP Fendri Jaswir dan Bendahara Oberlin Marbun.
Bersama pemandu tour Muhammad Taslim (mantan
guru) yang akrab disapa cik gu Lim ini perjalanan yang cukup melelahkan jadi
ceria. Cik gu Lim punya segudang cerita kocak yang membuat suasana ceria dan
penuh tawa canda. Lihai berpantun dan mampu memaparkan objek wisata yang ada
lengkap dengan cerita versi lain dari yang biasa di dengar. Itulah ke khasan
sang cik gu ini.
Di antara objek
wisata yang sempat dikunjungi rombongan adalah objek wisata Batu Cave yang
merupakan warisan India di tanah Melayu. atu
Caves“. Terletak di distrik Gombak – Selangor yang berjarak 13 KM
arah utara Kuala Lumpur. Nama asli dari kuil tersebut adalah Batumalai Sri
Subramaniar Swamy Devasthanam, tetapi penduduk lokal dan para wisatawan lebih
mengenalnya dengan nama Batu Caves karena kuil tersebut dibangun pada sebuah
gua yang berada di salah satu dinding bukit kapur.
Akses transportasi umum menuju batu
caves sangat mudah karena terdapat kereta api commuter line dengan rute KL
sentral - batu caves. Dari bangunan stasiun kereta batu caves sudah terlihat
gugusan bukit kapur yang menjulang tinggi . Jangan pernah menganggap batu caves
berada di daerah terpencil karena sebenarnya bukit kapur tersebut berada di
tengah keramaian kawasan penduduk Selangor.
Kompleks Batu Caves terdiri dari tiga gua utama dan beberapa
gua kecil. Gua yang terbesar disebut "Gua Kuil",memiliki tinggi 100m
dan pada beberapa bagian dinding gua terdapat patung para tokoh berdasarkan
mitologi India. Panorama di bagian dalam gua cukup indah dengan adanya batuan
stalaktit serta cahaya matahari yang masuk melalui celah – celah gua, sehingga
memancarkan suasana sakral dan khidmat.
Untuk
mencapai gua kuil para wisatawan harus menaiki 272 buah anak tangga dengan
kemiringan 45 derajat, ketika menaiki tangga pengunjung harus berhati-hati
karena terdapat ratusan ekor monyet yang terkadang mencakar dan merebut barang
bawaan secara tiba-tiba.
Pada bagian depan tangga
utama menuju gua kuil berdiri dengan gagah ikon dari batu caves yaitu patung
Dewa Murugan berwarna emas setinggi 42,7 meter. Patung yang diresmikan pada
januari 2006 ini menjadi patung Dewa Murugan tertinggi di dunia. Sedangkan di
samping kiri terdapat bangunan kuil pemujaan untuk Dewa Ganesha dengan
arsitektur khas India.
Gua Ramayana terletak pada dinding bukit bagian kiri.
Menuju gua ramayana para pengunjung akan menyaksikan patung Hanoman berwarna
hijau dengan posisi tangan mengepal di dada. Patung Hanoman dengan tinggi 15
meter tersebut berdiri di depan kuil yang dipersembahkan baginya. Dalam
mitologi Hindu, Hanoman yang digambarkan berwujud seekor monyet telah berjasa
menyelamatkan Dewi Shinta dari tangan raksasa jahat bernama Rahwana. Semua
kisahnya tergambar pada alur dinding gua Ramayana. Selain itu masih ada dua bagian gua lain yang
digunakan sebagai galeri seni dan museum.
Kuil
Batumalai Sri Subramaniar Swamy Devasthanam atau Batu Caves dibangun pada tahun
1890 oleh seorang pedagang India bernama K.Thamboosamy Pillai. Beliau juga yang
membangun Kuil Sri Mahamariamman di kawasan pecinan Kuala Lumpur. Awalnya
tangga menuju gua kuil hanya terbuat dari kayu dan pada tahun 1920 digantikan
dengan tangga batu seperti sekarang.
Di
tangan Cik Gu Lim ada sisi lain cerita soal kuil ini. Begini ceritanya. Dulu,
kata Cik Gu Lim, tepatnya sekitar tahun 1940-an masih dilaksanakan tradisi
Hindu lama di kawasan itu. Tradisi itu yakni bila seorang suami meninggal dunia
maka sang istri harus ikut suami dengan cara dikremasi dibakar. Hal ini membuat
teror tersendiri bagi para wanita pada zaman itu. Sebab bila sang suami
meninggal dunia maka sang istri mau tidak mau harus dibakar hidup-hidup.
Kemudian
suatu kali terjadi sebuah peristiwa sejumlah lelaki di sana meninggal dunia
akibat wabah penyakit. Para istri merek harus menjalani ritual dibakar untuk
mengikuti suami. Seorang Bikhuni (biksu perempuan) kemudian mempunyai ide
membawa mereka ke tengah laut dengan menggunakan dua perahu. Dari kejauhan satu
perahu yang sepertinya berisi para wanita itu terlihat dibakar. Padahal (tanpa
diketahui orang di darat) para wanita itu telah dipindah ke perahu sang Bikhuni
dan diselamatkannya ke sebuah pulau dan tidak kembali lagi ke tempat tinggal
mereka semula biar dianggap telah mati.
‘‘Maka
untuk mengenang kebaikannya lalu dibangunlah kuil itu,“ ujarnya. Meski
demikian, katanya, lazimnya legenda tentu saja banyak versinya. Bisa jadi kisah
kuil itu tidak berkaitan dengan apa yang diceritakannya. Namun, lanjutnya,
demikianlah yang didengarnya turun-temurun. Apapun latar ceritanya, Batu caves ramai dikunjungi pengunjung baik lokal maupun
manca negara pada saat bulan januari atau februari bertepatan dengan festival
Thaipusam.
Salah satu ritual keagamaan yang sangat penting bagi penganut
Hindu terutama dari suku Tamil. Orang – orang India tidak hanya datang dari
segala penjuru Malaysia tetapi juga dari negara lain seperti Singapura dan
Malaysia. “Pemerintah Malaysia sangat menjaga serta melindungi kawasan
bukit kapur serta kuil – kuil yang terdapat didalamnya karena menjadi daya
tarik wisata dan warisan budaya India di tanah Melayu,” ujarnya lagi.
Sebagai
daerah destinasi wisata, hotel-hotel Kualalumpur Malaysia kerap penuh di
iven-iven tertentu. “Beberapa bulan mendatang ini akan ada iven moto GP di
Sepang. Saya akan handle 4 grup wisatan dari Indonesia yang akan kemari. Hotel
ini (tempat kami menginap di kawasan Bukit Bintang-red) sudah full booking,” ujarnya lagi.
Begitulah
Malaysia terus berbenah baik dari segi objek wisata, iven dan tentu saja
pramuwisata yang andal dan mampu membuat nyaman para pelancong dari berbagai
negeri. Sebuah contoh pengelolaan parawisata yang dikelola dengan profesional
dan amanah. Mampu mempromosikan daerah dengan baik dan menarik. Semoga kita juga
bisa.***
Objek wisata Batu Cave di Selangor sebelah utara Kualalumpur Malaysia. Foto kedua, peserta Muhibbah Jurnalistik PWI Riau foto bersama pimpinan Kantor Berita Nasional Malaysia (Bernama), Kamis (12/10/2017).


Komentar
Posting Komentar