Peluang Industri Halal, Rp3 Triliun Dolar per Tahun

Berkunjung ke International Institute For Halal Research & Training (INHART)


Produk industri halal kini jadi perhatian dunia. Pasalnya transaksi pasar di tingkat dunia sudah mencapai Rp3 triliun dolar per tahun. Produk-produk halal kini menjadi primadona. Sekitar 1,6 miliar umat Muslim yang tersebar di berbagai benua menginginkan agar segala produk yang digunakan benar-benar terjamin kehalalannya.

Laporan HELFIZON ASSYAFEI, Malaysia
helfizon@gmail.com

            Di sela rintik gerimis siang menjelang sore, Selasa (11/10), bus yang membawa 41 jurnalis Riau yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau bergerak pelan di aspal yang basah.  Memasuki gerbang kampus International Islamic University Malysia (IIUM) mata langsung disambut jejeran pepohonan hijau nan asri dengan latar bangunan kampus yang tertata rapi.  Bus berhenti di depan kampus IIUM. Seterusnya rombongan menuju gedung International Institute For Halal Research & Training (INHART) Kualalumpur Malaysia.
Setibanya di pusat riset dan pelatihan halal ini, rombongan PWI Riau yang dipimpin Ketua PWI, Zulmansyah Sekedang, diterima langsung oleh Deputy Dekan Academic, Research & Publication INHART,  Prof DR Irwandi Jaswir dan Head of Postgraduate Asst. Prof DR Betania Kartika MA. “Kami ingin tahu lebih jauh tentang perkembangan industri halal dunia saat ini dan apa peran INHART dalam hal ini,” ujar Zulmansyah dalam sambutannya.
Prof Dr Irwandi Jaswir tersenyum melihat antusias para wartawan dari Riau tersebut. Pria kelahiran Medan asal Sumatera Barat itu ternyata ilmuan yang diperhitungkan bukan saja di Malaysia tetapi juga level dunia. Irwandi juga disebut sebagai pelopor penelitian “halal science”. Prof Dr Irwandi Jaswir tercatat sebagai orang Indonesia pertama meraih anugerah Asia Pacific  Young Scientis Award 2010 tigkat dunia di Bangkok, Thailand. Penelitian intensif selama hampir 6 tahun dalam bidang analisis lemak babi dalam bahan pangan merupakan karya fenomenal yang mengantarkan ia meraih berbagai penghargaan termasuk penghargaan level dunia itu.
Kemudian sang profesor pun menjelaskan. Menurutnya 7 tahun lalu (2010), pasar makanan halal dunia sudah bernilai sekitar 632 miliar dolar AS per tahunnya. Menurut perhitungan majalah Time, nilai pasar makanan halal dunia itu setara dengan 16 persen dari total industri makanan di seluruh dunia. “Artinya industri halal dunia berkembang pesat,” ujarnya. Bahkan, lanjutnya lagi, dari data terbaru nilai transaksi pasar industri halal dunia hingga saat ini telah mencapai Rp3 triliun dolar per tahunnya. Oleh karena itu, lanjutnya, industri halal dunia berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi halal dari lembaga peneliti makanan halal yang berkualitas.
"Karena itulah banyak sekali negara-negara di dunia, seperti Rusia, Korea Selatan, Jepang dan lain-lain yang datang ke INHART untuk belajar dan meminta untuk sertifikasi halal produk-produk mereka," kata Irwandi. Para pengusaha di dunia ingin produknya bisa menembus pasar dengan potensi 1,6 miliar umat muslim di dunia. Bukan Cuma datang ke INHART tetapi Prof Dr Irwandi Jaswir dan rekannya kerap diundang memberikan presentasi ke berbagai belahan dunia tentang bagaimana agar produk dari industri bisa halal dan dapat digunakan muslim.
“Mereka sangat serius untuk membuat produknya halal dan bisa dikonsumsi muslim sehingga saat ini industri halal ayam potong di level dunia adalah Brasil,” ujarnya. Mereka pernah melakukan audit langsung dan ternyata memang benar Brasil menerapkan pemotongan ayam yang sesuai dengan syariat Islam,” ujarnya. Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung antusias Prof Dr Irwandi Jaswir sempat ditanya bagaimana memastikan bahwa produk ayam potong Brasil itu benar halalnya.
Ia menjelaskan bahwa industri halal ayam potong tingkat dunia yang paling banyak meraih sertifikasi halal dari berbagai lembaga penelitian dunia termasuk INHART memang di Brasil. Untuk mendapatkan sertifikasi halal itu tidak mudah. Sejumlah proses panjang yang merupakan standar operasi industri halal harus dijalankan dan diaudit secara periodik. Untuk menjamin bahwa standar industri halal dijalankan di perusahaan itu maka INHART misalnya menempatkan eksekutif halal yang bertugas di perusahaan tersebut. Dengan demikian proses kehalalan itu bukan hanya dipersiapkan oleh mereka ketika masa audit telah tiba.
“Jadi standar kehalalan industri itu benar-benar dijaga dengan SOP yang jelas ya. Sertifikasi itu pun dijaga agar tidak dipalsukan. Sekali dipalsukan produk itu diblacklist dan tidak akan menembus industri halal dunia,” ujarnya. Lebih lanjut Irwandi menjelaskan bahwa berkembangnya pasar industri halal direspon serius oleh negara-negara produsen seperti seperti Rusia, Korea Selatan, Jepang dan lain-lain.
“Sekarang kalau Anda ke Jepang sudah ada 2 restoran halal yang berdiri di sana dan mendapat sertifikasi halal,” ujarnya. Menurutnya hal ini sebagai bentuk respon Jepang yang akan jadi tuan rumah  pelaksana olympiade 2020 mendatang. Selain Jepang, Korea yang juga terkenal dengan ribuan industri kosmetiknya juga berupaya mendapat sertifikasi halal. “Kami sudah beberapakali memberi pelatihan baik di Korea ataupun mereka datang ke sini,” ujar Irwandi.
Ketua PWI Riau Zulmansyah Sekedang sempat bertanya bagaimana orang awam bisa tahu sebuah produk misalnya terkontaminasi lemak babi misalnya, Irwandi mengatakan sudah ada alatnya. Ilmuan peraih medali emas di Geneva ini menjelaskan bahwa ia berhasil mengembangkan sebuah alat pendeteksi lemak babi dengan metode fourier transform infra red. Dengan alat ini, lanjutnya, pendeteksian adanya lemak babi dalam bahan pangan dapat dilakukan dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 1 menit. Uniknya lagi alat ini bisa dibuat kecil seperti pena dan bisa dibawa ke mana-mana.
“Jadi kalau Anda ragu bisa tes kan alat ini ke produk tersebut dan kurang dari 1 menit alat ini akan memberi tahu apakah pangan itu terkontaminasi lemak babi atau tidak. Jadi tidak harus dibawa ke labor lagi,” ujarnya. Penemuannya itu telah diakui oleh dunia internasional karena kerap dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional dan memperoleh respon positif dari jurnal American Oil Chemists Society. Irwandi juga meraih “Inovation Award”  di ajang World Halal Research Summit selama 3 tahun berturut-turut (2011,2012,2013).
Menurut Irwandi saking seriusnya menginginkan produk halal kini industri halal melebar bukan saja pada makanan saja. "Saat ini produk halal sedang menjadi perhatian dunia. Karena potensi produk halal di dunia saat ini nilainya mencapai Rp3 triliun dolar setiap tahunnya. Produk dan industri halal dunia bukan lagi terbatas soal makanan atau minuman. Tapi juga sudah berkembang ke kosmetika halal, hotel halal, penerbangan halal, obat-obatan halal, vaksin halal dan masih banyak lagi produk-produk yang lainnya," ungkapnya.
Di antaranya ada juga yang meminta sertifkasi halal hingga ke produk furniture/mebel. “Bahkan pernah ada pengusaha industri halal datang ke kami minta tanah tempat menanam tumbuhan tertentu disertifikasi halal karena tanaman itu akan dikonsumsi, ini sudah berlebihan,” ujarnya tersenyum.  Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa INHART, lanjutnya, sebagai sebuah institusi, kata Irwandi, bukan semata mendeteksi bahan-bahan sebuah produk halal atau tidak halal, tetapi juga meneliti bahan-bahan halal untuk pengganti bahan yang tidak halal seperti vaksin untuk jamaah haji.
Upaya kerasnya mencari bahan pengganti gelatin babi baik untuk pangan maupun vaksin itu tertuang dalam penelitiannya bertajuk “Partikel Nano dari Gelatin Ikan”. Hasil dari penelitiannya tersebut ternyata menemukan bahwa gelatin lemak babi yang luas digunakan di industri makanan, kosmetik dan obat-obatan itu bisa diganti dengan gelatin ikan. Temuannya ini membawa Prod Dr Irwandi Jaswir meraih medali emas di ajang ilmuan dunia di Taipe.
Menurut Irwandi mengapa gelatin babi banyak digunakan industri dunia karena selain mudah didapatkan raw materialnya juga gelatin ini tergolong tahan dalam perubahan suhu dan cuaca serta costnya lebih murah. “Dengan adanya industri halal, lanjutnya, membuat umat muslim dunia lebih lega karena bisa terhindar dari mengkonsumsi sesuatu yang dilarang oleh Islam,” ujarnya lagi. Itulah sebabnya, lanjut Irwandi, total transaksi industri halal mencapai Rp3 triliun dolar AS per tahun yang menggambarkan tingginya permintaan produk industri halal.
“Tak heran industri-industri besar dunia berupaya menembus pasar industri halal dengan cara berupaya mendapatkan sertifikasi halal dari lembaga yang kompeten,” ujarnya lagi.
Paparan sang profesor membuat diskusi berjalan hangat dan tak terasa hari pun sudah menjadi gelap yang terlihat di luar kaca ruangan. Saat azan berkumandang pertanda waktu salat Magrib masuk, pertemuan yang mencerahkan itupun berakhir.***
        
CENDERAMATA: Ketua PWI Riau, Zulmansyah Sekedang memberikan cenderamata kepada Deputy Dekan Academic, Research & Publication INHART,  Prof DR Irwandi Jaswir di kampus International Islamic University Malysia (IIUM) Kualalumpur Malaysia, Selasa (11/10/2017).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahapan Investigasi (Pengantar)

Gurau Wartawan Malaysia

Kejutan “Big Experience” di Akhir Tahun