Meludahi Langit
Meludahi
Langit
Ananda Sukarlan alumnus Kolese Kanisius
(sekolah katolik) dan sejumlah rekannya Walk Out dari ruangan saat Gubernur DKI
Anies Baswedan memberi sambutan. Jelasnya tuan rumah walk out dalam sebuah
acara resmi saat tamu memberi kata sambutan. Pesannya jelas: sakit hati dan
kebencian. Semula ia merasa menang telah mempermalukan sang tamu. Namun
belakangan tokoh-tokoh Katolik sendiri mengkritik sikapnya itu dan
terang-terangan menyebutnya “ketidakberadaban” alias kurang ajar.
Tindakan kurang ajar oleh orang yang non
educated people mungkin masih bisa dimaklumi. Namun kalau dilakukan oleh
seorang alumni sekolah hebat seperti itu tentu itu kontraproduktif bagi sekolah
itu sendiri. Tanggapan kritis dari tokoh Katolik atas sikap Ananda Sukarlan
setidaknya memperlihatkan satu hal bahwa bukan itu yang diajarkan di sana.
Hanya sang oknum yang mengalami kecelakaan berfikir dengan melakukan tafsir
tunggal (menurut seleranya sendiri) atas kemenangan Anies sebagai gubernur DKI
yang dicapnya dengan tidak benar.
Sebagai manusia kita memiliki
prasangka-prasangka. Kita menyukai seseorang, juga tidak menyukai yang lain.
Kiat menganggap seseorang bernilai tinggi, sementara yang lain berharga rendah.
Tetapi dalam pandangan Tuhan semua sama, mereka semua adalah ciptaan Nya.
Setiap ciptaan adalah kreasi sang pencipta. Jika ada yang
menghina/mempermalukan ciptaan lainnya berarti menghina Sang Kreator itu
sendiri. Jelas DIA tidak senang bila secarik kreasinya tidak dihargai.
Ananda Sukarlan bermaksud menghina
kreasi Tuhan yang bernama Anies Baswedan. Yang terjadi justru Ananda
Sukarlanlah yang panen hinaan. Mungkin semula dia mengira tindakannya itu
mewakili suara hati kolese kanisius. Ternyata dia keliru. Sukarlan seperti
orang yang meludahi langit. Hanya sejenak ludah itu di udara. Kemudian jatuh
tepat di mukanya sendiri selama-lamanya.***
Pekanbaru
15 November 2017

Komentar
Posting Komentar