“Papa” Jadi Bulan-bulanan
SN alami
kecelakaan saat akan menyerahkan diri ke KPK. Begitu kata berita. Reaksi publik
pun beragam. Namun tidak satupun yang terlihat bersimpati. Semua tentang SN
berubah jadi guyon. Breakingnews: tiang listrik yang ditabrak mobil SN kemungkinan jadi
tersangka. Kemungkinan berikutnya SN mengalami gegar otak sehingga harus dibawa
ke luar negeri, utamanya Amerika Serikat biar bisa ketemu Trump. SN kemungkinan
tak bisa diadili. Apalagi kata pengacara kepalanya bengkak sebesar bakpau (berita
detik.com). Kemungkinan tidak bisa diadili karena hilang ingatan…
Itulah reaksi
orang banyak yang selama ini mungkin selalu jadi korban kebohongan. Kata orang
bijak selama masih berada di dunia ini, kita akan banyak mengalami tindak
kebohongan-kebohongan, mulai dari kebohongan yang bersifat individu, sampai
kebohongan di tingkat publik. Kebohongan ini selalu menghiasi kehidupan
manusia, bukan karena manusianya, tapi karena kepentingan dan motif di balik
kebohongan tersebut. Seperti seorang istri yang dibohongi oleh suaminya, atau
sebaliknya.
Rakyat yang
dibohongi oleh pemimpinnya, atau sebaliknya. Karyawan dibohongi majikannya,
atau juga sebaliknya. Kebohongan-kebohongan ini tampak jelas terlihat, ketika
kebohongan tersebut menceritakan tentang dirinya sendiri. Artinya, kebohongan
tersebut terungkap sebagai sesuatu yang memiliki ketidak-benaran. Dan,
kebohongan ini menjadi bagian dari kehidupan manusia, karena manusia memiliki
keinginan untuk memiliki ‘lebih.’ Seperti misalnya, ingin ‘lebih’ kaya, ‘lebih’
senang, ‘lebih’ nikmat, ‘lebih’ cantik atau keinginan yang ‘lebih-lebih’
lainnya.
Dunia memang tak
seperti tampaknya yang kita lihat sehari-hari. Banyak hal tersembunyi di
baliknya. Yang sering tampil ke depan justru kebohongan dan penipuan. Kebenaran,
yang seringkali menyakitkan, justru mengendap di balik apa yang tampak. Itulah
kenyataan hidup kita sehari-hari. Wajah cantik menyimpan kebusukan. Wajah
tampan dan rapi menyimpan kerakusan. Kita bagaikan menghirup udara penipuan
setiap harinya. Namun, penipuan itu tidak bisa dibiarkan. Ia harus
dipertanyakan dan dilawan, supaya kita bisa melihat apa yang tersembunyi di
baliknya.
Ketika si penipu
ketahuan dan terus berkelit maka respon orang berubah jadi guyonan.
Sampai-sampai seorang Eka Putra Nazir dosen UMRI teman saya itu punya ide
kreatif yakni rancangan judul skripsi “Peranan tiang listrik dalam penegakkan
hukum korupsi di Indonesia” mendadak panen komen, viral. Bahkan yang bikin
ngakak lagi adalah ada komen yang menyebut tiang listrik yang ditabrak SN
dikabarkan sudah minta maaf. Wkkk wkkk wkk..
Dulu saya pernah
jadi moderator sebuah diskusi bersama Walhi Riau yang menghadirkan Kapolda Riau
waktu itu Brigjend Pol Sutjiptadi. Sang Kapolda lagi jadi trending topic waktu
itu karena sikapnya yang nonkompromi dengan para penjahat yang datang coba
menyuap. Garang terhadap illegal logging dan bikin resah ‘pemain’ mapan selama
ini. Saya sempat bertanya pada beliau di sela rehat diskusi. “Mengapa bapak
berani menolak para penjahat suap ini?”
Ia hanya
tersenyum simpul. Lalu mengambil gelas kaca di hadapannya yang masih kosong.
“Perhatikan gelas ini dik,” ujarnya. Ia lalu mengisinya hingga penuh. Lalu ia
berkata; “Jika gelas ini ibaratnya umur saya dan air itu ibaratnya rezeki saya
maka sesungguhnya rezeki saya sudah dituliskan sang pencipta katakanlah
seukuran gelas ini. Saya cari dengan cara halal ataupun haram jumlah akhirnya
tidak akan berubah,” ujarnya santai. Oleh karena itu, lanjutnya, ia tidak
pernah takut menolak uang haram karena menurutnya uang haram itu tidak akan
mengubah total rezeki yang akan didapatkannya. Lama saya tercenung mendengar
jawaban perwira polisi yang pernah jadi muallaf ini. Sebuah pencerahan yang
saya kenang hingga hari ini….***
Komentar
Posting Komentar