SEGENGGAM BERLIAN










By Helfizon Assyafei

Jumlah rumah tahanan (Rutan) di seluruh Riau kurang lebih ada 13 bangunan. Semuanya mengalami overcapacity  penghuni alias melebihi kapasitas hingga 150 persen. Bahkan ada yang menerapkan shif-shif-an untuk dapat tidur malam hari di dalam sel karena saking penuhnya penghuni sel. Sebagian terpaksa tidur di luar sel (masih dalam lingkungan Lapas berpagar) dengan beratapkan langit.
Kalau hujan basahlah kalau dingin menggigil lah. Agar bisa tidur dalam sel terpaksa diatur shif. Dari 3.000 kapasitas daya tampung Lapas di Riau saat ini penghuninya sudah mencapai 11.000 orang! Di Indonesia ternyata Riau lah Rutannya mengalami overload  tertinggi di seluruh Indonesia. Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum Ham Riau Lilik Sujandi mengatakan hal itu saat berkunjung ke dapur redaksi kami belum lama ini. Hmm..seram juga membayangkan kejahatan berkembang begitu cepat di Riau..di sekitar kita. Mungkin tanpa kita sadari..

***
Kejahatan seperti benih yang tersebar bersama angin. Ia tumbuh subur di jiwa-jiwa yang lupa. Sebab kenikmatan kejahatan langsung dirasakan saat dilakukan. Mencuri, korupsi, berzina kejahatan yang enaknya langsung dirasakan saat melakukannya. Sedangkan kebaikan seperti shalat, sedekah, puasa misalnya enaknya bukan langsung dirasakan saat melakukanya. Perlu proses untuk bisa memahami hakikat amalan baik itu sebelum mendapatkan nikmat saat melakukannya. Kejahatan langsung dicatat Malaikat. Sedang kebaikan diteliti dulu apakah ikhlas atau tidak, benar atau tidak. Kebaikan bisa ditolak bila ada virus riya di dalamnya. Sederhananya gampang jadi jahat sebaliknya tidak gampang jadi baik. Dan penjara pun lebih cepat penuh dari pada tempat ibadah.
Mengapa menjadi baik lebih susah daripada menjadi jahat? Karena-kata orang bijak-untuk menjadi baik perlu kesadaran. Kebanyakan orang mengabaikannya. Sehingga banyak orang dilahirkan dari kanak-kanak, remaja, dewasa, menikah, tua dan mati dalam keadaan “tertidur”.  Orang yang tertidur tidak sadar. Orang yang tidak sadar tidak bisa membedakan ini baik ini buruk. Tidak memahami ini diperintahkan Tuhan itu dilarang. Lakukan semua yang penting enak. Dan penjara pun cepat penuh...
Mengapa orang susah sadar. Karena lupa ada sesuatu yang berharga di balik diri. Kita punya kualitas positif yang sering kita remehkan. Segenggam berlian di balik diri itulah jiwa yang bersih. Jiwa yang pernah ditiupkan langsung oleh pencipta langit dan bumi yang Maha Suci. Jika kita sadar bahwa kita memiliki segenggam berlian di balik tubuh yang fana ini, kita tidak akan mau mengotorinya. Kita takut mengotorinya. Seperti orang yang takut mengotori uangnya, pakaiannya, emasnya. Jiwa yang bersih selalu berada dalam tenang dan damai serta berkecukupan hati. Jiwa yang bersih tahu tempat kembali sebenarnya setelah sejenak berjalan di kefanaan. Di alam kesementaraan ini.
Namun ketika hadir ke dunia ini banyak dari kita tak menyadari keberadaan jiwa yang bersih itu dan terus mengotorinya dengan dosa demi kenikmatan hidup sesaat.  Jiwa punya kecenderungan menjadi baik dan menjadi buruk. Orang yang abai membersihkan jiwanya maka secara alami ia akan cenderung pada keburukan. Suka pada keburukan. Mendapat kenikmatan dan ketagihan bila melakukan keburukan. Dan penjara pun menjadi penuh..
Seorang guru sufi pernah menegur muridnya begini:  Jika kau memiliki segenggam berlian tapi kau tidak menyadari memilikinya maka berlian itu akan sama saja dengan batu biasa. Jika kita menyadari nilainya kita akan kaya…***

…fizon2012.blogspot.co.id




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahapan Investigasi (Pengantar)

Gurau Wartawan Malaysia

Kejutan “Big Experience” di Akhir Tahun