Suatu Hari Yang Tak Lagi Kembali
Mengantarkan Jenazah Almarhum Amzar Senior ku di Riau Pos
Di
balik titik-titik kefanaan hidup ini, ada sisi-sisi kemuliaan keabadian-NYA.
Berita itu
selalu mengejutkan meski kita tahu kita dan semuanya fana. Perginya seorang
rekan kerja untuk tak kembali lagi mengingatkan diri ini bahwa waktu tak pernah
menunggu. Bang Amzar kami memanggilnya di redaksi. Seorang wartawan senior yang
saya banyak belajar darinya saat pernah memegang halaman 1 Riau Pos beberapa
tahun yang lalu ketika saya masih seorang redaktur. Belajar sabar, telaten dan
kreatif menghadapi ribuan teks setiap hari. Tenang hadapi masalah dan tidak
cepat marah hadapi persoalan. Kami berdualah kru redaksi yang paling akhir
pulang ke rumah setelah koran naik cetak setiap dini hari.
Bertahun-tahun
kemudian. Lama tak berinteraksi lagi karena kami beda divisi. Kabar beliau
sakit pun sudah sampai ke telinga. Saat bersiap membezuk, kabar duka lebih dulu
pula sampai. Innalillahi wainna ilaihi rojiuun..Teringat pernah bersamanya di
suatu hari yang takkan lagi kembali. Kefanaan adalah kita. Namun saya teringat
kata-kata seorang sufi asal Turki Ahmed Hulusi.
Katanya: sayangnya,
kebenaran mengenai kematian hanya sedikit yang diketahui. Umumnya dipahami
sebagai suatu akhir, padahal kematian hanyalah peralihan dari dunia material ke
duniia eteral. Proses perubahan bentuk! Ketika seseorang meninggal dunia, dia
meninggalkan tubuh fisiknya dan melanjutkan hidupnya di alam kubur atau di luar
kubur dengan tubuh gelombang holografiknya yang disebut ‘ruh’.
Ketika otak berhenti berfungsi,
energi bioelektrikal yang dipasokkan ke tubuh berhenti. Artinya, energi
elektromagnetik yang menghubungkan ruh dengan tubuh lenyap, karenanya
melepaskan ruh untuk bergerak menuju kehidupan lepas. Demikianlah halnya
kematian. Inilah apa yang disampaikan oleh Ibrahim Haqqi Erzurumi mengenai
peristiwa kematian melalui lisannya Nabi Muhammad (saw):
Orang yang meninggal dunia
mengetahui siapa yang memandikan dan mengafaninya, siapa yang menghadiri
pemakaman dan mendoakannya, siapa yang meletakkan jasadnya ke dalam kubur dan
membacakan talkin (pembacaan doa-doa tertentu segera setelah mayat selesai
dikuburkan). Jangan berteriak dan berduka di dekat orang yang meninggal karena
itu akan menyiksa dia, karena orang yang meninggal dapat mendengar dan melihat
sepenuhnya apa yang terjadi di sekitarnya.
Sekali lagi hidup adalah
perjalanan. Kematian ternyata juga perjalanan dari suatu alam ke alam
berikutnya. Selamat jalan bang. Semoga semua kebaikan dibalas di sisi Allah SWT
dan semua kesalahan diampuni. Amin ya Robbil Alamin.***

Komentar
Posting Komentar