113 Tahun Lalu
Oleh:
Helfizon Assyafei
Akhir pekan lalu Saya berkesempatan singgah di Masjid
Jami’ Air Tiris Kabupaten Kampar yang
bersejarah itu. Masjid yang terletak di Jalan Pasar Usang Desa Tanjung Barulak,
Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar ini dibangun pada tahun 1901 Masehi oleh
seorang ulama bernama Engku Mudo Songkal yang lahir tahun 1826 dan meninggal
pada tahun 1927.
Saat pembangunan masjid, para ninik-mamak yang disebut
"Nini Mamak Nan Dua Belas" dari berbagai suku yang ada dalam seluruh
kampung bergotong royong. Lalu akhirnya tahun 1904, masjid yang bangunannya
berasal dari kayu dan menggunakan pasak ini selesai dibangun dan diresmikan
oleh seluruh masyarakat Air Tiris dengan menyembelih 10 ekor kerbau. Begitu sejarah
mencatat.
“113 tahun yang lalu,” gumam saya dalam hati. Saya
terpesona menyaksikan struktur masjid yang unik itu. Saat ini kita berada di tahun
2017. Berjarak 113 tahun lalu dari saat masjid ini diresmikan. Terbayang dalam
imajinasi saya betapa ramainya warga yang datang di peresmian itu. Ada
tausiyah, ada makanan, ada kebersamaan dan sejuta kenangan indah yang kini
telah dibawa mereka semua ke alam baka. Adakah mereka bertemu kembali dalam
kegembiraan yang sama di alam sana? Adakah mereka saling berkunjung dalam
kebahagiaan? Mudah-mudahan jiwa-jiwa mereka itu tetap dalam kebahagiaan seperti
waktu ketika di sini dulu..di Masjid Jami’ ini 113 tahun lalu.
113 tahun yang lalu. Di mana saya ketika itu? Juga dimana
semua orang yang sezaman dengan saya hari ini? Yang membaca tulisan ini maupun
yang tidak. Dimana? Ketika itu kita
belum bisa disebut sesuatu apapun. Gaib sebelum lahir, sejenak berada di bumi
dan gaib lagi setelah kematian. Untunglah soal gaib sebelum lahir dan gaib
setelah berakhir di dunia ini ada penjelasannya di Alquran.
Di dalam ajaran Islam dipercaya ada
alam ruh sebelum kelahiran manusia di dunia. Seperti yang tertulis dalam Surat
Al-A’raf (7) ayat 173 : Ingatlah ketika Tuhanmu
mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) manusia keturunan mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap ruh mereka seraya berfirman, “Bukankah Saya
Tuhamu?”, mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan, kami sungguh bersaksi”…
Dari dialog di atas antara Tuhan
dengan manusia tergambar jelas bahwa ada kehidupan sebelum kelahiran manusia di
dunia. Bahkan jawaban manusia seperti itu bukankah ini menandakan bahwa manusia
di alam sana memiliki
intelegensi. Para ahli filsafat zaman
Yunani juga sudah sampai pada kesimpulan itu. Kalau begitu, Simmias, jiwa-jiwa
kita pasti sudah eksis sebelum mereka dalam bentuk manusia-tanpa tubuh, dan
pasti telah memiliki inteligensi. Ini kutipan Plato ilmuan Yunani 1427 SM
muridnya Sokrates.
Betapa butuhnya kita pengetahuan tentang asal-usul dari mana kita
dan hendak kemana kita. Tanpa pengetahuan itu kita seperti layang-layang putus
yang diterbangkan angin ke mana-mana saja. Seperti baling-baling di atas bukit.
Kemana angin ke sana berputar. Kemana orang ramai ke situ pula kita. Tanpa tahu
tujuan, hidup menjadi sia-sia. Adakah
kita di sini hanya untuk lahir, makan,
tidur, bekerja, berkembang biak, sengsara atau bersenang-senang, lalu
mati?
Tidak.., pasti tidak untuk itu kita diciptakan. Kita harus mencari
tahu rahasia mengapa kita harus ada sekarang di sini, di bumi ini. Untuk apa? Agar umur yang diberikan tidak habis
untuk kesia-siaan. Umur ibarat modal yang diberi Tuhan pada setiap kita. Bila
disia-siakan maka dia takkan pernah kembali. 113 tahun lalu kita belum ada. 113
tahun mendatang kita pun boleh jadi bukan lagi di sini, di bumi ini. Lalu
mengapa kita berebut-rebut apa saja di dunia ini seperti anjing berebut tulang?
Sikut sana, sikut sini. Tipu sana tipu sini. Korupsi sana korupsi sini. Jegal
sana jegal sini. Padahal…bukan untuk itu kita ada di sini.***

Komentar
Posting Komentar